Hijrahku, hijrah Ibuku

Ibu. Perempuan yang akan melakukan apapun untuk anaknya, demi anaknya bahagia, demi anaknya baik-baik saja. Sangat wajar jika seorang Ibu akan merasakan kekhawatiran akan terjadi sesuatu yang membahayakan anak-anaknya. Masing-masing Ibu memiliki kekhawatirannya sendiri-sendiri, ada yang terlalu khawatir hingga menjadi sebuah larangan keras yang justru mengekang dan membuat anak salah paham. Ada juga Ibu yang mampu mengatur kekhawatirannya, sehingga anak-anaknya dengan mudah mampu memahami kekhawatiran orangtuanya. Karena Ibu selalu ingin apa yang terbaik untuk anaknya, sehingga wajar jika kekhawatiran menghinggapi orangtuanya. Inilah tantangan bagi perempuan-perempuan yang akan menjadi seorang Ibu.

Tentang Madrasah Diniyah sepulang sekolah yang dengan terpaksa aku jalani karena paksaan Ibu. Ketika teman-temanku pulang sekolah langsung bisa istirahat tidur siang, aku justru harus cepat-cepat selesaikan makan siang dan berangkat sekolah lagi. Belum juga jarak sekolah yang jauh, aku harus bersepeda ke Desa sebrang. Di sore hari, ketika teman-temanku asik bermain di depan rumah, aku dengan lelahnya baru saja pulang, bersepeda, sendirian.

Menyebalkan memang, tapi setelahnya aku sadar bahwa ternyata ini justru baik untukku. Aku jadi lebih berani pergi sendirian, aku jadi memiliki lebih banyak teman. Disaat teman-teman sekitarku belum bisa membaca Al-Qu’an, aku sudah mulai menghafalnya. Disinilah aku memahami satu hal, bahwa ketika kita belajar lebih keras dari yang lain, maka yang kita dapatkan pun akan lebih banyak.

Kalo dulu Adek belajar ngaji cuma sama Ibu dirumah, Adek cuma bisa ngaji. Tapi kalo Adek belajar di Madrasah, Adek bisa belajar fiqih, tajwid, bahkan bahasa arab, kan ? Bahkan Adek juga bisa jadi anak yang lebih sholehah sekarang.



Ketika aku lulus dari SMK orangtua lain mengizinkan, bahkan menyuruh anak-anaknya bekerja, Ibu mengizinkanku untuk kuliah ke luar Kota. Untuk pertama kalinya, aku pergi merantau jauh dari keluarga. Alasannya sama seperti sepuluh tahun yang lalu, Ibu tahu ini akan baik untuk anaknya. Lagi dan lagi, Ibu percaya pada anak perempuannya. Ibu memang selalu ingin memberikan yang terbaik untuk anaknya.

Menjadi salah satu mahasiswi di Universitas Islam, lingkunganku  100% berubah. Dikelilingi oleh orang-orang islami membuatku ikut menjadi lebih agamis. Berbagai perubahan terjadi satu demi satu. Mulai dari kepribadian, kebiasaan hingga penampilan dan gaya hidup yang menjadi lebih taat pada agama. Perubahan inilah yang kemudian menjadi satu langkah besar dalam hidupku.


Berjilbab besar bukan sesuatu yang biasa terlihat di daerah kelahiranku. Kota kecil yang cukup tertinggal dibanyak bidang ini menyebabkan sebagian besar warganya sulit menerima hal-hal baru dan juga sulit meninggalkan tradisi dan budaya. Banyak yang kupelajari dari lingkungan baruku, yang juga membawa banyak perubahan pada kehidupanku. Teman-teman dengan gaya hidup yang lebih agamis membuatku sadar bahwa banyak yang harus ku perbaiki dari diri ini. Memperpanjang jilbab dengan tujuan lebih menutup aurat adalah salah satunya. Setelah dua tahun merantau untuk mencari ilmu diluar daerah kelahiran, aku menjadi perempuan yang lebih agamis dari sebelumnya. Mulai dari penampilan hingga kepribadianku, banyak yang berubah. Sayangnya, lingkungan rumahku tidak semuanya bersedia menerima perubahan ini. Ada yang bilang aneh, karena jilbab yang kukenakan lebih panjang dari biasanya, bergamis, hingga selalu mengenakan kaos kaki ketika keluar rumah. Menimbulkan berbagai macam pertanyaan tetangga, bahkan tidak sedikit yang secara terang-terangan mengolok-olokku aneh.

Disaat seperti inilah Ibu menjadi satu-satunya tempat ternyaman untuk bersandar. Ibu adalah satu-satnya orang yang mengetahui berat, sulit dan sejauh mana perjalananku, hingga sampai di titik ini, Ibu tanpa ragu percaya kepada anak perempuannya bahwa yang anaknya pilih bukanlah hal yang salah. Ibu mendukung hijrahku,  bahkan Ibu ikut menyempurnakan langkahnya dalam menutup aurat, lebih sering mendengarkan tausiyah daripada gosip di televisi, juga memperbanyak ibadah sunnah. Perlahan tapi pasti, hijrahku juga menjadi hijrah Ibuku.


Terimakasih, Ibu. Untuk segala kepercayaan pada anak perempuanmu.










Komentar

Postingan populer dari blog ini

Wakaf Ummi di Tapal Batas

Surat untuk Indonesiaku, Kutemukan Energi di Tapal Batas