Surat untuk Indonesiaku, Kutemukan Energi di Tapal Batas


Teruntuk Indonesiaku.

Namaku Melly, aku Mahasiswa, dan ini caraku berbagi Energi di pelosok utara Negeri.

Ini tentang Indonesia, tepatnya salah satu bagian terluar dari Indonesia. Tentang Pulau Sebatik, Pulau yang merupakan salah satu batas Negara di bagian utara Indonesia. Pulau yang dihuni dua Negara, Indonesia dan Malaysia. Ya, perbatasan langsung antar Negara, baik darat, laut dan udara. Aku berkesempatan tingaal di Pulau ini selama kurang lebih dua bulan, dalam sebuah ekspedisi pengabdian di Tapal Batas.

Tidak pernah terbayang sebelumnya untuk hidup di Daerah perbatasan. Dualisme kenegaraan jelas sangat terasa di Pulau ini. Dari sisi Ekonomi, Sosial hingga Budaya. Mirisnya, semua lebih condong ke Malaysia. Terlalu dekat dengan Malaysia, dan terlalu jauh untuk ke Indonesia. Membuat hampir semua kebutuhan masyarakat dipenuhi oleh pasar Malaysia. Dualisme mata uang, bahkan bahasa dan budaya masyarakat pun sudah banyak yang tercampur oleh Malaysia. Satu semboyan pun muncul dari masyarakat perbatasan;

" Garuda di dadaku, Malaysia di perutku "

 Bukan tanpa alasan, karena ini adalah bagian dari Indonesia dengan cita rasa Malaysia. Awalnya kupikir rasa nasionalisme mereka akan sangat kurang terhadap Indonesia. Karena tentu mereka akan lebih cinta Malaysia yang sudah banyak memberi kehidupan untuk mereka. Tapi ternyata aku salah. Rasa cinta mereka pada Indonesia justru tak terkalahkan.

Mulai dari yang terlihat sederhana, beberapa masyarakat berusaha untuk mengutamakan penggunaan mata uang Rupiah dalam setiap transaksi, kemudian hampir setiap rumah di Pulau ini terdapat bendera merah putih di halamannya. Lebih dari itu, sebanyak 1.478 masyarakat pun ikut mengibarkan bendera merah putih di teras utara Indonesia pada HUT RI ke 72 lalu. Perayaan dimana-mana, menunjukkan semangat dan cinta pada Indonesia tidak pernah hilang dari mereka.

Sumber : Tim PDD Saudara Sebatik Project III
Selembar kisah tentang olahraga, satu dari mereka pernah mengajakku bicara tentang cita-cita. saat kutanyakan apa cita-citanya, jawaban dia sama dengan kebanyakan anak laki-laki seusianya, Pemain Sepak Bola. Tapi ada satu yang membuat jawabannya terdengar istimewa ditelingaku;

" Pemain bola saja Kak. Sa ingin pi bermain untuk Indonesia, baru kalahkan itu Malaysia !" 

Sederhana saja, ingin kalahkan Malaysia. Tapi ini terdengar luar biasa bagiku, karena yang mengatakan adalah anak kecil yang tinggal di batas Negara, yang sekolahnya berada di ujung Indonesia, yang orangtuanya mencari nafkan di Malaysia, yang hampir semua kebutuhan hidupnya dipenuhi oleh Malaysia. Bagaimana mungkin dia begitu ingin membela dan mendukung Indonesia?? Bagaimana mungkin dia begitu mencintai Indonesia???

Dia adalah satu dari sekian banyak anak-anak disana, bagian kecil dari masyarakat di Pulau Sebatik yang begitu bangga dengan Indonesia. Andai mereka berkesempatan melihat langsung Asian Games 2018, aku yakin suara mereka yang paling lantang menyuarakan dukungan untuk Negaranya. Sayangnya, mereka tidak bisa menyaksikan perjuangan Indonesia. Mungkin beberapa anak yang orangtuanya memiliki siaran TV Indonesia bisa menontonnya, tapi tentu tidak semuanya. Jangankan menonton TV, beberapa rumah mereka saja masih belum teraliri listrik dengan baik.

Sumber : Tim PDD Saudara Sebatik Project III
Mereka adalah wajah Indonesia beberapa tahun yang akan datang, merekalah yang akan menggenggam dunia, mengharumkan nama baik Indonesia dengan prestasinya. Aku khawatir, semangat mereka di perbatasan sana tidak terdengar oleh Indonesia. Untuk itu, ku tulis surat ini, surat yang menyampaikan api semangat mereka, kecintaan mereka pada Negaranya, Indonesia.

Karena kalian harus tahu, kalian harus lihat, semangat dan kecintaan masyarakat perbatasan yang begitu besar. Kebanggaan mereka menjadi rakyat Indonesia bisa menjadi energi yang luar biasa bagi Bangsa ini. Untuk itu, bantulah mereka menjada semangatnya, jangan biarkan semangat mereka luntur, jangan biarkan cinta mereka pada Indonesia hancur, hanya karena Negara tetangga lebih mampu merangkul mereka dengan begitu nyamannya. Tolong jaga mereka, jangan sampai mereka lebih mencintai Malaysia.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Wakaf Ummi di Tapal Batas

Hijrahku, hijrah Ibuku